BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Pengetahuan
2.1.1
Definisi
Pengetahuan
merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan
terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia,
yakni : indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian
besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. (Notoatmodjo,
2011)
2.1.2
Proses
Adaptasi Perilaku
Pengetahuan
atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan
seseorang (overbehavior). Karena dari
pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasarkan oleh pengetahuan
akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.
Penelitian Rongers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku
baru (berperilaku baru), dalam diri orang tersebut terjadi proses yang
berurutan, yang disebut AIETA, yaitu sebagai berikut :
a. Awareness (kesadaran),
di mana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap
stulus (objek)
b. Interest (merasa
tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut. Di sini sikap subjek sudah
mulai timbul
c.
Evaluation (menimbang
– nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini
berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
d. Trial, di
mana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki
oleh stimulus
e. Adoption, di
mana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan
sikapnya terhadap stimulus
Namun demikian, dari penelitian
selanjutnya Rongers menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati
tahap–tahap tersebut.
Apabila penerimaan perilaku baru
atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini, di mana didasari dengan
pengetahuan dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan bersifat
langgeng (long lasting). Sebaliknya,
apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran akan tidak
berlangsung lama. Satu contoh dapat dikemukakan di sini, ibu – ibu peserta KB
yang diperintahkan oleh lurah atau ketua RT, tanpa ibu – ibu tersebut
mengetahui makna dan tujuan KB, mereka akan segera keluar dari peserta KB
setelah beberapa saat peritah tersebut diterima. (Notoatmodjo, 2011)
2.1.3
Tingkat
Pengetahuan Dalam Domain Kognitif
Pengetahuan
yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkat, yakni sebagai
berikut :
1. Tahu
(know)
Tahu diartikan sebagai
mengigat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam
pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang
dipelajari atau rangsangan yang telah diterima
2. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan
sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui,
dan dapat menginterprestasi materi tersebut secara benar.
3. Aplikasi
(application)
Aplikasi diartikan
sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi
atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi ini dapat diartikan atau penggunaan
hukum – hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau
situasi yang lain.
4. Analisis
(analysis)
Analisis merupakan
suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen –
komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada
kaitannya satu sama lain.
5. Sintesis
(synthesis)
Sintesis menunjukkan pada suatu kemampuan untuk
meletakkan atau menghubungkan bagian – bagian dalam suatu bentuk keseluruhan
yang baru
6. Evaluasi
(evaluation)
Evaluasi ini berkaitan
dengan kemampuan untuk melakukan jastifikasi atau penilaian terhadap suatu
materi atau objek.
Pengukuran
pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan
tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau
responden.Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat
kita sesuaikan dengan tingkat – tingkat tersebut diatas. (Notoatmodjo, 2011)
2.2
HIV/AIDS
2.2.1
Definisi
HIV
(Humam Immunodeficiency Virus) yaitu
virus jenis retrovirus yang hidup dan berkembang dalam tubuh manusia dan dapat
melemahkan sistem kekebalan tubuh sedangkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) yaitu sekumpulan gejala
penyakit yang timbul akibat melemahnya sitem kekebalan tubuh yang didapat.AIDS
disebabkan oleh infeksi HIV. (BKKBN, 2011)
HIV
merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Virus HIV yang
masuk ke dalam tubuh akan berkembang biak. Virus HIV akan masuk dalam sel darah
putih dan merusaknya, sehingga sel darah putih yang berfungsi sebagai
pertahanan terhadap infeksi akan menurun jumlahnya. Akibatnya sitem kekebalan
tubuh menjadi lemah dan penderita mudah terkena berbagai penyakit.Kondisi ini
disebut AIDS sedangkan AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit yang timbul
karena rendahnya daya tahan tubuh.Pada awalnya penderita HIV positif sering
menampakkan gejala sampai bertahun tahun (5 – 10 tahun). Banyaknya faktor yang
mempengaruhi panjang pendeknya masa tanpa gejala ini, namun pada masa ini
penderita dapat menularkan penyakitnya pada orang lain. Sekitar 89% penderita
HIV akan berkembang menjadi AIDS. Semakin lama menderita akan semakin lemah dan
akhirnya akan berakhir dengan kematian, karena saat ini belum ditemukan obat
untuk mencegah atau menyembuhkan HIV/AIDS. (Widyastuti, 2009)
2.2.2
Cara
Penularan HIV/AIDS
Terdapat 3 cara
penularan HIV, yaitu
a. Hubungan
seksual, baik melalui vagina, oral, maupun anal dengan seorang pengidap. Ini
adalah cara yang paling umum terjadi, meliputi 80 – 90% dari total kasus
sedunia. Penularan lebih mudah terjadi apabila terdapat lesi penyakit kelamin
dengan ulkus atau peradangan jaringan seperti herpes genitalis, sifilis,
gonorea, klamidia, kankroid, dan trikomoniasis. Risiko pada seks anal lebih
besar dibandingkan seks vagina dan risikonya lebih besar pada reseptif dari
pada insertif.
b. Kontak
langsung dengan darah atau jarum suntik
1) Transfusi
darah yang tercemar HIV, risikonya sangat tinggi sampai 90%. Ditemukan sekitar
3 – 5% dari total kasus sedunia.
2) Pemakaian
jarum suntik tidak steril pada para pecandu narkotika suntik, risikonya sekitar
0,5% dan terdapat 5 – 10% dari total kasus sedunia.
3) Penularan
lewat kecelakaan, tertusuk jarum pada petugas kesehatan, risikonya kurang dari
0,5% dan telah terdapat ≤ 0,1% dari total kasus di dunia.
c. 
Secara vertikal, dari
ibu hamil mengidap HIV kepada bayinya, baik selama hamil, saat melahirkan, atau
setelah melahirkan. Risikonya sekitar 25 – 40% dan terdapat 0,1% dari total
kasus sedunia. (Notoatmodjo, 2011)
Cara – cara penularan
HIV yaitu sebagai berikut :
1. Hubungan
seks yang tidak aman
2. Melalui
transfusi darah yang terinfeksi HIV
3. Penggunaan
jarum suntik yang digunakan secara bergantian
4. Ibu
hamil dengan HIV dapat menularkan virus ke bayi yang dikandungnya
5. HIV
menular melalui cairan tubuh seperti darah, semen atau air mani, cairan vagina,
air susu ibu, dan cairan tubuh lainnya (BKKBN, 2011)
HIV tidak menular
melalui yaitu sebagai berikut :
1. Berdekatan
dengan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS), termasuk tinggal serumah atau bekerja
dalam satu ruangan.
2. Berpulakan,
berjabat tangan dengan ODHA
3. Makan
atau minum dengan tempat yang sama dengan ODHA
4. Pemakaian
WC, Wastafel atau kamar mandi bersama
5. Berenang
di kolam renang yang sama
6. Bersin
dan batuk
7. Gigitan
nyamuk atau serangga lainnya. (BKKBN, 2011)
2.2.3
Patogenesis
Supaya
terjadi infeksi, virus harus masuk ke dalam sel, dalam hal ini sel darah putih
yang disebut limfosit.Materi genetik
virus dimasukkan ke dalam DNA sel yang terinfeksi.Di dalam sel, virus
berkembangbiak dan pada akhirnya menghancurkan sel serta melepaskan partikel
virus yang baru.Partikel virus yang baru kemudian menginfeksi limfosit lainnya
dan menghancurkannya.
Seseorang
yang terinfeksi oleh HIV akan kehilanagn limfosit T penolong melalui 3 tahap
selama beberapa bulan atau tahun :
1.
Seseorang yang sehat memiliki limfosit CD4
sebanyak 800 – 1300 sel/mL darah. Pada beberapa bulan pertama setelah
terinfeksi HIV, jumlahnya menurun sebanyak 40 – 50%. Selama bulan – bulan ini
penderita bisa menularkan HIV kepada orang lain karena banyak partikel virus
yang terdapat di dalam darah. Meskipun tubuh berusaha melawan virus, tetapi
tubuh tidak mampu meredakan infeksi
2.
Setelah sekitar 6 bulan, jumlah partikel
virus di dalam darah mencapai kadar yang stabil, yang berlainan pada setiap
penderita. Perusakan sel CD4+ dan penularan penyakit kepada orang lain terus
berlanjut. Kadar partikel virus yang tinggi dan kadar limfosit CD4+ yang rendah
membantu dokter dalam menentukan orang – orang yang beresiko tinggi menderita
AIDS.
3.
1
– 2 tahun sebelum terjadi AIDS, jumlah limfosit CD4+ biasanya menurun drastis.
Jika kadarnya mencapai 200 sel/mL darah, maka penderita menjadi rentan terhadap
infeksi. (Mahdiana, 2010)
Infeksi HIV juga menyebabkan
gangguan pada fungsi limfosit B (limfosit yang menghasilkan antibodi) dan seringkali menyebabkan
produksi antibodi yang berlebihan. Antibodi ini terutama ditujukan untuk
melawan HIV dan infeksi yang dialami penderita, tetapi antibodi ini tidak
banyak membantu dalam melawan berbagai infeksi oportunistik pada AIDS. Pada saat yang bersamaan, penghancuran
limfosit CD4+ oleh virus menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem kekebalan
tubuh dalam mengenali organisme dan sasaran baru yang harus diserang.
(Mahdiana, 2010)
2.2.4
Tanda
Gejala HIV/AIDS
Orang yang biasanya sudah
terinfeksi HIV biasanya sulit dibedakan dengan orang yang sehat di masyarakat.
Mereka masih dapat melakukan aktivitas seperti biasa, badan terlihat sehat, dan
masih dapat bekerja dengan baik. Untuk sampai pada fase AIDS seseorang yang
telah terinfeksi HIV akan melewati beberapa fase yaitu :
1. Fase
pertama : masa jendela (window period)
Pada awal terinfeksi
ciri – cirinya belum dapat dilihat meskipun yang bersangkutan melakukan tes
darah, karena pada fase ini sistem antibodi terhadap HIV belum terbentuk,
tetapi yang bersangkutan sudah dapat menulari orang lain. Masa ini disebut
dengan window priod, biasanya antara
1 – 6 bulan.
2. Fase
kedua
3. Fase
ketiga
Mulai muncul gejala –
gejala awal penyakit.Belum disebut sebagai gejala AIDS tetapi sistem kekebalan
tubuh mulai berkurang. Gejala yang berkaitan dengan HIV antara lain :
a. Keringat
yang berlebihan pada waktu malam
b. Diare
terus – menerus
c. Pembengkakan
kelenjar getah bening
d. Flu
tidak sembuh – sembuh
e. Nafsu
makan berkurang dan lemah
f. Berat
badan terus berkurang
4. Fase
keempat
Sudah masuk pada tahap
AIDS. AIDS baru dapat terdiagnosis setelah kekebalan tubuh sangat berkurang
dilihat dari jumlah sel T (dibawah 2.001 mikro liter) dan timbul penyakit
tertentu yang disebut dengan infeksi oportunistik yaitu :
a. Kanker
khususnya kanker kulit yang disebut sarcoma
kaposi
b. Infeksi
paru – paru yang menyebabkan radang paru – paru dan kesulitan bernapas (TBC
umumnya diderita oleh pengidap AIDS)
c. Infeksi
usus yang menyebabkan diare parah selama berminggu – minggu
d. Infeksi
otak yang menyebabkan kekacauan mental, sakit kepala, dan sariawan.
(Kumalasari, 2012)
2.2.5
Etiologi
2.2.6
Pengobatan
Pada
saat ini sudah banyak obat yang bisa digunakan untuk menangani infeksi HIV :
1. Nucleoside reverse transcriptase
inhibitor
a. AZT
(zidovudin)
b. ddI
(didanosin)
c. ddC
(zalsitabin)
d. d4T
(stavudin)
e. 3TC
(lamivudin)
f. Abakavir
2. Non – nucleoside reverse
transcriptase inhibitor
a. Nevirapin
b. Delavirdin
c. Efavirenz
3. Protease inhibitor
a. Saquinavir
b. Ritonavir
c. Indinavir
d.
Nelfinavir
Semua obat – obatan tersebut
ditujukan untuk mencegah reproduksi virus sehingga memperlambat progresivitas penyakit.
HIV akan segera membentuk resistensi terhadap obat – obatan tersebut bila
digunakan secara tunggal. Pengobatan paling efektif merupakan kombinasi antara
2 obat atau lebih, kombinasi obat bisa memperlambat timbulnya AIDS pada
penderita HIV positif dan memperpanjang harapan hidup. Tapi penderita dengan
kadar virus yang tinggi dalam darah harus segera diobati walaupun kadar CD4nya
masih tinggi dan penderita tidak menunjukkan gejala apapun. (Mahdiana, 2010)
AZT, ddI, d4T, dan ddC menyebabkan
efek samping seperti nyeri abdomen, mual dan sakit kepala (terutama AZT).
Penggunaan AZT terus menerus bisa merusak sumsum tulang dan menyebabkan anemia.
ddI, ddC dan d4T bisa merusak saraf – saraf perifer. ddI bisa merusak pankreas.
Dalam kelompok nucleoside, 3TC tampaknya mempunyai efek samping yang paling
ringan. (Mahdiana, 2010)
Ketiga protease inhibitor
menyebabkan efek samping mual dan muntah, diare dan gangguan perut. Indinavir
menyebabkan kenaikan ringan kadar enzim hati, bersifat reversibel dan tidak
menimbulkan gejala, juga menyebabkan nyeri punggung hebat (kolik renalis) yang serupa dengan nyeri yang ditimbulkan batu
ginjal. Ritonavir dengan pengaruhnya pada hati menyebabkan naik atau turunnya
kadar obat lain dalam darah. Kelompok protease inhibitor banyak menyebabkan
perubahan metabolisme tubuh seperti peningkatan kadar gula darah dan kadar
lemak, serta peruabahan distribusi lemak tubuh (protease paunch). (Mahdiana, 2010)
2.2.7
Konseling
dan Tes HIV Sukarela
VCT
kepanjangan dari Voluntary Counselling
and Testing yaitu : Voluntary : klien
melaksanakan tes HIV secara sukarela, tanpa ada paksaan, Counselling : konselor membantu klien untuk siap tes atau memilih
tidak tes dan siap menerima hasil tes, Testing
: testing darah untuk mengetahui status HIV klien (positif atau negatif) jadi
VCT merupakan konseling dan test HIV sebagai upaya untuk memberikan dukungan
secara psikologis dan emosional yang dapat dilakukan melalui dialog personal
antara seorang konselor dan seorang klien atau antara seorang konselor bersama
klien dan pasangan (couple councelling).
(BKKBN, 2011)
Satu
– satunya cara untuk mengetahui status HIV seseorang yaitu melalui tes darah.
Syarat dari pelaksanaan tes darah tersebut yaitu bersifat sukarela, rahasia,
terdapat adanya konseling sebelum dan sesudah tes, serta adanya persetujuan
tertulis (informed consent).
Hasil
konseling dan tes HIV sukarela yang negatif sekalipun juga bisa berkontribusi
dalam upaya mencegah penularan HIV dari ibu ke bayi karena melalui proses
konseling perempuan tersebut akan semakin paham tentang perilaku yang harus
dijalaninya agar tetap berstatus HIV negatif. Jika telah memenuhi persyaratan,
layanan konseling dan tes HIV sukarela dijalankan di layanan kesehatan ibu dan
anak dan layanan keluarga berencana di tiap jenjang pelayanan kesehatan.
Layanan konseling dan tes HIV sukarela akan sangat baik jika diintegrasikan
dengan layanan kesehatan ibu dan anak dan layanan keluarga berencana yaitu
sebagai berikut :
1. Dengan
menjadikan konseling dan tes HIV sukarela sebagai sebuah layanan rutin di
kesehatan ibu dan anak dan layanan keluarga berencana (ditawarkan kepada semua
pengunjung). Akan mengurangi stigma terhadap HIV/AIDS
2. Layanan
rutin konseling dan tes HIV sukarela di layanan kesehatan ibu dan anak akan
menjangkau banyak ibu hamil
3.
Menjalankan
konseling dan tes HIV sukarela di klinik kesehatan ibu dan anak akan
mengintegrasikan program HIV/AIDS dengan layanan kesehatan lainnya, seperti
pengobatan IMS dan infeksi lainnya, pemberian gizi, dan keluarga berencana.
(Hermiyanti, 2006)
Protokol tes darah yang biasa
digunakan merupakan teknik ELISA dengan menggunakan tiga jenis reagen yang
berbeda. Cara ini membutuhkan sekitar satu minggu untuk mengetahui hasil tes.
Untuk mendapatkan hasil tes yang lebih cepat dan mudah, lebih direkomendasikan
untuk menggunakan tes cepat (rapidtest)
dari pada test ELISA. Hasil rapid-test
dapat diketahui kurang dari 45 menit. Cara ini baik untuk melakukan test 1 –
100 spesimen sekaligus, menggunakan peralatan dan reagen yang sedikit, dapat
dilakukan di sebuah klinik, tidak membutuhkan staf khusus dan sangat mudah
untuk membaca hasil test. (Hermiyanti, 2006)
Beberapa pemeriksaan fisik yang
dilakukan dan dicari untuk temuan baru yang mungkin menunjukkan perkembangan
penyakit yaitu seperti darah diambil untuk :
1. Uji
hematologis – hemoglobin, hitung sel darah putih, hitung trombosit
2. Kimia
klinis, terutama pada mereka yang mendapatkan terapi antivirus
3. Uji
imunologis – hitung sel CD4
4. Titer
RNA virus HIV dalam plasma.
5. Ulangi
tes anti HIV
6. Riwayat
seksual
7. Pemeriksaan
fisik
8. Pemeriksaan
hematologi
9.
Uji
enzim plasma untuk fungsi hati
10. Uji
imunologis
a. Hitung
sel CD4
b. Imunoglobulin
serum
c. Β2
–mikroglobulin
11. Perkiraan
RNA HIV plasma
12. Tes
serologis untuk
a. Toxoplasma
gondii
b. Sitomegalovirus
c. Sifilis
d. Virus
hepatitis B dan C
13. Sitologi/Kolposkopi
14. Foto
sinar-X toraks. (Glasier, 2005)
2.2.8
Pencegahan
Penularan HIV/AIDS
Pada dasarnya sama dengan pencegahan PMS, yaitu :
1. Melakukan
hubungan hanya dengan satu pasangan yang setia atau menghindari hubungan –
hubungan seksual dengan pasangan yang berganti – ganti
2. Mempunyai
perilaku seksual yang bertanggung jawab dan setia pada pasangan
3. Setiap
darah transfusi dicek terhadap HIV dan donor darah kepada sanak saudara lebih
sehat dan aman dibandingkan donor darah profesional
4. Menghindari
injeksi, periksa dalam, prosedur pembedahan yang tidak steril dari petugas
kesehatan yang tidak bertanggung jawab. (Kumalasari, 2012)
Penularan
infeksi HIV dapat ada 5 hal yang dapat dicegah yaitu sebagai berikut :
1. Tidak
melakukan hubungan seks sebelum menikah
2. Saling
setia pada pasangannya
3. Menggunakan
kondom secara konsisten dan benar
4. Tolak
penggunaan NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif), terutama
Narkoba suntik
5. Mintalah
atau gunakan peralatan medis yang steril. (BKKBN, 2011)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar