Jumat, 27 Desember 2013



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1     Pengetahuan
2.1.1        Definisi
Pengetahuan merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni : indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. (Notoatmodjo, 2011)

2.1.2        Proses Adaptasi Perilaku
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overbehavior). Karena dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasarkan oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Penelitian Rongers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yang disebut AIETA, yaitu sebagai berikut :
a.       Awareness (kesadaran), di mana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stulus (objek)
b.      Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut. Di sini sikap subjek sudah mulai timbul
c.       Text Box:  Evaluation (menimbang – nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
d.      Trial, di mana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus
e.       Adoption, di mana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus
Namun demikian, dari penelitian selanjutnya Rongers menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap–tahap tersebut.
Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini, di mana didasari dengan pengetahuan dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya, apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran akan tidak berlangsung lama. Satu contoh dapat dikemukakan di sini, ibu – ibu peserta KB yang diperintahkan oleh lurah atau ketua RT, tanpa ibu – ibu tersebut mengetahui makna dan tujuan KB, mereka akan segera keluar dari peserta KB setelah beberapa saat peritah tersebut diterima. (Notoatmodjo, 2011)

2.1.3        Tingkat Pengetahuan Dalam Domain Kognitif
Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkat, yakni sebagai berikut :
1.      Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengigat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima



Text Box: 9
 
2.      Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasi materi tersebut secara benar.
3.      Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi ini dapat diartikan atau penggunaan hukum – hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
4.      Analisis (analysis)
Analisis merupakan suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen – komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5.      Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian – bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru
6.      Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan jastifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden.Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat – tingkat tersebut diatas. (Notoatmodjo, 2011)



Text Box: 10
 
2.2     HIV/AIDS
2.2.1        Definisi
HIV (Humam Immunodeficiency Virus) yaitu virus jenis retrovirus yang hidup dan berkembang dalam tubuh manusia dan dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh sedangkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) yaitu sekumpulan gejala penyakit yang timbul akibat melemahnya sitem kekebalan tubuh yang didapat.AIDS disebabkan oleh infeksi HIV. (BKKBN, 2011)
HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Virus HIV yang masuk ke dalam tubuh akan berkembang biak. Virus HIV akan masuk dalam sel darah putih dan merusaknya, sehingga sel darah putih yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap infeksi akan menurun jumlahnya. Akibatnya sitem kekebalan tubuh menjadi lemah dan penderita mudah terkena berbagai penyakit.Kondisi ini disebut AIDS sedangkan AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit yang timbul karena rendahnya daya tahan tubuh.Pada awalnya penderita HIV positif sering menampakkan gejala sampai bertahun tahun (5 – 10 tahun). Banyaknya faktor yang mempengaruhi panjang pendeknya masa tanpa gejala ini, namun pada masa ini penderita dapat menularkan penyakitnya pada orang lain. Sekitar 89% penderita HIV akan berkembang menjadi AIDS. Semakin lama menderita akan semakin lemah dan akhirnya akan berakhir dengan kematian, karena saat ini belum ditemukan obat untuk mencegah atau menyembuhkan HIV/AIDS. (Widyastuti, 2009)

2.2.2         Cara Penularan HIV/AIDS
Text Box: 11 Virus AIDS atau HIV terdapat dalam darah dan cairan tubuh seseorang yang tertular, walaupun orang tersebut belum menunjakkan keluhan atau gejala penaykit.HIV hanya dapat ditularkan pada bila terjadi kontak langsung dengan cairan tubuh atau darah.Dosis virus memegang peranan penting.Makin besar jumlah virusnya, makin besar kemungkinan terinfeksi.Jumlah virus yang banyak terdapat pada darah, sperma, cairan vagina, dan serviks serta cairan otak. Dalam saliva, air mata, urine, keringat, dan air susu hanya ditemukan dalam jumlah sedikit sekali. (Notoatmodjo, 2011)
Terdapat 3 cara penularan HIV, yaitu
a.       Hubungan seksual, baik melalui vagina, oral, maupun anal dengan seorang pengidap. Ini adalah cara yang paling umum terjadi, meliputi 80 – 90% dari total kasus sedunia. Penularan lebih mudah terjadi apabila terdapat lesi penyakit kelamin dengan ulkus atau peradangan jaringan seperti herpes genitalis, sifilis, gonorea, klamidia, kankroid, dan trikomoniasis. Risiko pada seks anal lebih besar dibandingkan seks vagina dan risikonya lebih besar pada reseptif dari pada insertif.
b.      Kontak langsung dengan darah atau jarum suntik
1)      Transfusi darah yang tercemar HIV, risikonya sangat tinggi sampai 90%. Ditemukan sekitar 3 – 5% dari total kasus sedunia.
2)      Pemakaian jarum suntik tidak steril pada para pecandu narkotika suntik, risikonya sekitar 0,5% dan terdapat 5 – 10% dari total kasus sedunia.
3)      Penularan lewat kecelakaan, tertusuk jarum pada petugas kesehatan, risikonya kurang dari 0,5% dan telah terdapat ≤ 0,1% dari total kasus di dunia.
c.       Text Box: 12 Secara vertikal, dari ibu hamil mengidap HIV kepada bayinya, baik selama hamil, saat melahirkan, atau setelah melahirkan. Risikonya sekitar 25 – 40% dan terdapat 0,1% dari total kasus sedunia. (Notoatmodjo, 2011)
Cara – cara penularan HIV yaitu sebagai berikut :
1.      Hubungan seks yang tidak aman
2.      Melalui transfusi darah yang terinfeksi HIV
3.      Penggunaan jarum suntik yang digunakan secara bergantian
4.      Ibu hamil dengan HIV dapat menularkan virus ke bayi yang dikandungnya
5.      HIV menular melalui cairan tubuh seperti darah, semen atau air mani, cairan vagina, air susu ibu, dan cairan tubuh lainnya (BKKBN, 2011)

HIV tidak menular melalui yaitu sebagai berikut :
1.      Berdekatan dengan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS), termasuk tinggal serumah atau bekerja dalam satu ruangan.
2.      Berpulakan, berjabat tangan dengan ODHA
3.      Makan atau minum dengan tempat yang sama dengan ODHA
4.      Pemakaian WC, Wastafel atau kamar mandi bersama
5.      Berenang di kolam renang yang sama
6.      Bersin dan batuk
7.      Gigitan nyamuk atau serangga lainnya. (BKKBN, 2011)

2.2.3        Patogenesis
Supaya terjadi infeksi, virus harus masuk ke dalam sel, dalam hal ini sel darah putih yang disebut limfosit.Materi genetik virus dimasukkan ke dalam DNA sel yang terinfeksi.Di dalam sel, virus berkembangbiak dan pada akhirnya menghancurkan sel serta melepaskan partikel virus yang baru.Partikel virus yang baru kemudian menginfeksi limfosit lainnya dan menghancurkannya.
Text Box: 13 Virus menempel pada limfosit yang memiliki suatu reseptor protein yang disebut CD4, yang terdapat di selaput bagian luar.Sel – sel yang memiliki reseptor CD4 biasanya disebut sel CD4+ atau limfosit T penolong.Limfosit T penolong berfungsi mengaktifkan dan mengatur sel – sel lainnya pada sistem kekebalan (misalnya limfosit B, makrofag, dan limfosit T sitotoksik), yang kesemuanya membantu menghancurkan sel – sel ganas dan organisme asing.Infeksi HIV menyebabkan hancurnya limfosit T penolong, sehingga terjadi kelemahan sistem tubuh dalam melindungi dirinya terhadap infeksi dan kanker. (Mahdiana, 2010)
Seseorang yang terinfeksi oleh HIV akan kehilanagn limfosit T penolong melalui 3 tahap selama beberapa bulan atau tahun :
1.        Seseorang yang sehat memiliki limfosit CD4 sebanyak 800 – 1300 sel/mL darah. Pada beberapa bulan pertama setelah terinfeksi HIV, jumlahnya menurun sebanyak 40 – 50%. Selama bulan – bulan ini penderita bisa menularkan HIV kepada orang lain karena banyak partikel virus yang terdapat di dalam darah. Meskipun tubuh berusaha melawan virus, tetapi tubuh tidak mampu meredakan infeksi
2.        Setelah sekitar 6 bulan, jumlah partikel virus di dalam darah mencapai kadar yang stabil, yang berlainan pada setiap penderita. Perusakan sel CD4+ dan penularan penyakit kepada orang lain terus berlanjut. Kadar partikel virus yang tinggi dan kadar limfosit CD4+ yang rendah membantu dokter dalam menentukan orang – orang yang beresiko tinggi menderita AIDS.
3.        Text Box: 14 1 – 2 tahun sebelum terjadi AIDS, jumlah limfosit CD4+ biasanya menurun drastis. Jika kadarnya mencapai 200 sel/mL darah, maka penderita menjadi rentan terhadap infeksi. (Mahdiana, 2010)
Infeksi HIV juga menyebabkan gangguan pada fungsi limfosit B (limfosit yang menghasilkan antibodi) dan seringkali menyebabkan produksi antibodi yang berlebihan. Antibodi ini terutama ditujukan untuk melawan HIV dan infeksi yang dialami penderita, tetapi antibodi ini tidak banyak membantu dalam melawan berbagai infeksi oportunistik pada AIDS. Pada saat yang bersamaan, penghancuran limfosit CD4+ oleh virus menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam mengenali organisme dan sasaran baru yang harus diserang. (Mahdiana, 2010)

2.2.4        Tanda Gejala HIV/AIDS
Orang yang biasanya sudah terinfeksi HIV biasanya sulit dibedakan dengan orang yang sehat di masyarakat. Mereka masih dapat melakukan aktivitas seperti biasa, badan terlihat sehat, dan masih dapat bekerja dengan baik. Untuk sampai pada fase AIDS seseorang yang telah terinfeksi HIV akan melewati beberapa fase yaitu :
1.      Fase pertama : masa jendela (window period)
Pada awal terinfeksi ciri – cirinya belum dapat dilihat meskipun yang bersangkutan melakukan tes darah, karena pada fase ini sistem antibodi terhadap HIV belum terbentuk, tetapi yang bersangkutan sudah dapat menulari orang lain. Masa ini disebut dengan window priod, biasanya antara 1 – 6 bulan.
2.      Fase kedua
Text Box: 15 Umur infeksi 2 – 10 tahun setelah terinfeksi HIV.Pada fase ini individu sudah positif HIV tetapi belum menampakkan gejala sakit. Dapat menularkan orang lain. Kemungkinan mengalami gejala – gejala ringan seperti flu (biasanya 2 – 3 hari dan sembuh sendiri)
3.      Fase ketiga
Mulai muncul gejala – gejala awal penyakit.Belum disebut sebagai gejala AIDS tetapi sistem kekebalan tubuh mulai berkurang. Gejala yang berkaitan dengan HIV antara lain :
a.    Keringat yang berlebihan pada waktu malam
b.    Diare terus – menerus
c.    Pembengkakan kelenjar getah bening
d.   Flu tidak sembuh – sembuh
e.    Nafsu makan berkurang dan lemah
f.     Berat badan terus berkurang
4.      Fase keempat
Sudah masuk pada tahap AIDS. AIDS baru dapat terdiagnosis setelah kekebalan tubuh sangat berkurang dilihat dari jumlah sel T (dibawah 2.001 mikro liter) dan timbul penyakit tertentu yang disebut dengan infeksi oportunistik yaitu :
a.     Kanker khususnya kanker kulit yang disebut sarcoma kaposi
b.    Infeksi paru – paru yang menyebabkan radang paru – paru dan kesulitan bernapas (TBC umumnya diderita oleh pengidap AIDS)
c.     Infeksi usus yang menyebabkan diare parah selama berminggu – minggu
d.    Infeksi otak yang menyebabkan kekacauan mental, sakit kepala, dan sariawan. (Kumalasari, 2012)

2.2.5        Etiologi
Text Box: 16 HIV ialah retrovirus yang disebut Lymphadenopathy Associated Virus (LAV) atau Human T – Cell Leukimia Virus III (HTLV-III) yang juga disebut Humam T – Cell Lymphotrophic Virus (retrovirus).LAV ditemukan oleh Montagnier dkk.Pada tahun 1983 di Perancis, sedangkan HTLV-III ditemukan oleh Gallo di Amerika Serikat pada tahun berikutnya. Virus yang sama ini ternyata banyak ditemukan di Afrika Tengah. Sebuah penelitian pada 200 monyet hijau Afrika, 70% dalam darahnya mengandung virus tersebut tanpa menimbulkan penyakit. Nama lain virus tersebut adalah HIV. HIV terdiri dari atas HIV-1 dan HIV-2 terbanyak karena HIV-1. Partikel HIV terdiri atas dua untaian RNA dalam inti protein yang dilindungi envelop lipid asal sel hospes. (Hamzah, 2011)

2.2.6        Pengobatan
Pada saat ini sudah banyak obat yang bisa digunakan untuk menangani infeksi HIV :
1.      Nucleoside reverse transcriptase inhibitor
a.       AZT (zidovudin)
b.      ddI (didanosin)
c.       ddC (zalsitabin)
d.      d4T (stavudin)
e.       3TC (lamivudin)
f.       Abakavir
2.      Non – nucleoside reverse transcriptase inhibitor
a.       Nevirapin
b.      Delavirdin
c.       Efavirenz
3.      Protease inhibitor
a.       Saquinavir
b.      Ritonavir
c.       Indinavir
d.      Text Box: 17 Nelfinavir
Semua obat – obatan tersebut ditujukan untuk mencegah reproduksi virus sehingga memperlambat progresivitas penyakit. HIV akan segera membentuk resistensi terhadap obat – obatan tersebut bila digunakan secara tunggal. Pengobatan paling efektif merupakan kombinasi antara 2 obat atau lebih, kombinasi obat bisa memperlambat timbulnya AIDS pada penderita HIV positif dan memperpanjang harapan hidup. Tapi penderita dengan kadar virus yang tinggi dalam darah harus segera diobati walaupun kadar CD4nya masih tinggi dan penderita tidak menunjukkan gejala apapun. (Mahdiana, 2010)
AZT, ddI, d4T, dan ddC menyebabkan efek samping seperti nyeri abdomen, mual dan sakit kepala (terutama AZT). Penggunaan AZT terus menerus bisa merusak sumsum tulang dan menyebabkan anemia. ddI, ddC dan d4T bisa merusak saraf – saraf perifer. ddI bisa merusak pankreas. Dalam kelompok nucleoside, 3TC tampaknya mempunyai efek samping yang paling ringan. (Mahdiana, 2010)
Ketiga protease inhibitor menyebabkan efek samping mual dan muntah, diare dan gangguan perut. Indinavir menyebabkan kenaikan ringan kadar enzim hati, bersifat reversibel dan tidak menimbulkan gejala, juga menyebabkan nyeri punggung hebat (kolik renalis) yang serupa dengan nyeri yang ditimbulkan batu ginjal. Ritonavir dengan pengaruhnya pada hati menyebabkan naik atau turunnya kadar obat lain dalam darah. Kelompok protease inhibitor banyak menyebabkan perubahan metabolisme tubuh seperti peningkatan kadar gula darah dan kadar lemak, serta peruabahan distribusi lemak tubuh (protease paunch). (Mahdiana, 2010)
Text Box: 18 Penderita AIDS diberi obat – obatan untuk mencegah infeksi oportunistik. Penderita dengan kadar limfosit CD4+ kurang dari 200 sel/mL darah mendapatkan kombinasi trimetoprim dan sulfametoksazol untuk mencegah pneumonia pneumokistik dan infeksi toksoplasma ke otak. Penderita dengan limfosit CD4+ kurang dari 100 sel/mL darah mendapatkan azitromisin seminggu sekali atau Mycobacterium avium. Penderita yang bisa sembuh dari meningitis kriptokokal atau infeksi candida mendapatkan flukonazol jangka panjang. Penderita dengan infeksi herpes simpleks berulang mungkin memerlukan pengobatan asiklovir jangka panjang.  (Mahdiana, 2010)

2.2.7        Konseling dan Tes HIV Sukarela
VCT kepanjangan dari Voluntary Counselling and Testing yaitu : Voluntary : klien melaksanakan tes HIV secara sukarela, tanpa ada paksaan, Counselling : konselor membantu klien untuk siap tes atau memilih tidak tes dan siap menerima hasil tes, Testing : testing darah untuk mengetahui status HIV klien (positif atau negatif) jadi VCT merupakan konseling dan test HIV sebagai upaya untuk memberikan dukungan secara psikologis dan emosional yang dapat dilakukan melalui dialog personal antara seorang konselor dan seorang klien atau antara seorang konselor bersama klien dan pasangan (couple councelling). (BKKBN, 2011)
Satu – satunya cara untuk mengetahui status HIV seseorang yaitu melalui tes darah. Syarat dari pelaksanaan tes darah tersebut yaitu bersifat sukarela, rahasia, terdapat adanya konseling sebelum dan sesudah tes, serta adanya persetujuan tertulis (informed consent).
Text Box: 19 Layanan konseling dan tes HIV secara sukarela merupakan salah satu komponen paling penting dalam upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi. Melalui konseling dan tes HIV sukarela, akan diketahui perempuan dengan status HIV positif yang selanjutnya akan dilakukan upaya untuk menghindari ataupun mengurangi risiko tertularnya HIV dari perempuan tersebut ke bayi yang di kandungnya. Tanpa adanya layanan konseling dan tes HIV sukarela, perempuan tersebut tidak akan tahu bahwa dirinya telah terinfeksi HIV hingga klien jatuh sakit dengan tanda – tanda AIDS, ataupun hingga klien melahirkan bayi yang kemudian didiagnosis HIV positif. Tindakan intervensi pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi menjadi tidak dilakukan terhadapnya.Pemberian obat antiretroviral untuk mengurangi risiko penularan HIV ke bayi, misalnya, hanya diberikan kepada perempuan yang diketahui statusnya HIV positif. (Hermiyanti, 2006)
Hasil konseling dan tes HIV sukarela yang negatif sekalipun juga bisa berkontribusi dalam upaya mencegah penularan HIV dari ibu ke bayi karena melalui proses konseling perempuan tersebut akan semakin paham tentang perilaku yang harus dijalaninya agar tetap berstatus HIV negatif. Jika telah memenuhi persyaratan, layanan konseling dan tes HIV sukarela dijalankan di layanan kesehatan ibu dan anak dan layanan keluarga berencana di tiap jenjang pelayanan kesehatan. Layanan konseling dan tes HIV sukarela akan sangat baik jika diintegrasikan dengan layanan kesehatan ibu dan anak dan layanan keluarga berencana yaitu sebagai berikut :
1.      Dengan menjadikan konseling dan tes HIV sukarela sebagai sebuah layanan rutin di kesehatan ibu dan anak dan layanan keluarga berencana (ditawarkan kepada semua pengunjung). Akan mengurangi stigma terhadap HIV/AIDS
2.      Layanan rutin konseling dan tes HIV sukarela di layanan kesehatan ibu dan anak akan menjangkau banyak ibu hamil
3.      Text Box: 20 Menjalankan konseling dan tes HIV sukarela di klinik kesehatan ibu dan anak akan mengintegrasikan program HIV/AIDS dengan layanan kesehatan lainnya, seperti pengobatan IMS dan infeksi lainnya, pemberian gizi, dan keluarga berencana. (Hermiyanti, 2006)
Protokol tes darah yang biasa digunakan merupakan teknik ELISA dengan menggunakan tiga jenis reagen yang berbeda. Cara ini membutuhkan sekitar satu minggu untuk mengetahui hasil tes. Untuk mendapatkan hasil tes yang lebih cepat dan mudah, lebih direkomendasikan untuk menggunakan tes cepat (rapidtest) dari pada test ELISA. Hasil rapid-test dapat diketahui kurang dari 45 menit. Cara ini baik untuk melakukan test 1 – 100 spesimen sekaligus, menggunakan peralatan dan reagen yang sedikit, dapat dilakukan di sebuah klinik, tidak membutuhkan staf khusus dan sangat mudah untuk membaca hasil test. (Hermiyanti, 2006)
Beberapa pemeriksaan fisik yang dilakukan dan dicari untuk temuan baru yang mungkin menunjukkan perkembangan penyakit yaitu seperti darah diambil untuk :
1.      Uji hematologis – hemoglobin, hitung sel darah putih, hitung trombosit
2.      Kimia klinis, terutama pada mereka yang mendapatkan terapi antivirus
3.      Uji imunologis – hitung sel CD4
4.      Titer RNA virus HIV dalam plasma.
5.      Ulangi tes anti HIV
6.      Riwayat seksual
7.      Pemeriksaan fisik
8.      Pemeriksaan hematologi
9.      Text Box: 21 Uji enzim plasma untuk fungsi hati
10.  Uji imunologis
a.       Hitung sel CD4
b.      Imunoglobulin serum
c.       Β2 –mikroglobulin
11.  Perkiraan RNA HIV plasma
12.  Tes serologis untuk
a.       Toxoplasma gondii
b.      Sitomegalovirus
c.       Sifilis
d.      Virus hepatitis B dan C
13.  Sitologi/Kolposkopi
14.  Foto sinar-X toraks. (Glasier, 2005)

2.2.8        Pencegahan Penularan HIV/AIDS
Pada dasarnya  sama dengan pencegahan PMS, yaitu :
1.      Melakukan hubungan hanya dengan satu pasangan yang setia atau menghindari hubungan – hubungan seksual dengan pasangan yang berganti – ganti
2.      Mempunyai perilaku seksual yang bertanggung jawab dan setia pada pasangan
3.      Setiap darah transfusi dicek terhadap HIV dan donor darah kepada sanak saudara lebih sehat dan aman dibandingkan donor darah profesional
4.      Menghindari injeksi, periksa dalam, prosedur pembedahan yang tidak steril dari petugas kesehatan yang tidak bertanggung jawab. (Kumalasari, 2012)


Text Box: 22
 
Penularan infeksi HIV dapat ada 5 hal yang dapat dicegah yaitu sebagai berikut :
1.      Tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah
2.      Saling setia pada pasangannya
3.      Menggunakan kondom secara konsisten dan benar
4.      Tolak penggunaan NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif), terutama Narkoba suntik
5.      Mintalah atau gunakan peralatan medis yang steril. (BKKBN, 2011)